Sunday, June 04, 2006

Diskusi : Gunung Merapi dan Gempa-gempa di Jawa Tengah

Berikut diskusi saya dengan seorang rekan netter tentang hubungan kronologi kegempaan di jawa dan aktivitas Merapi.

Ma'rufin Sudibyo
Assalamu'alaykum

Salam kenal kembali pak Rovicky.

Masih berkait dengan gempa Yogya. Kompas 31 Mei kemarin, bersumber dari BMG, menyebut gempa2 kuat memang pernah mengguncang Yogya pada 10 Juni 1867, 27 September 1937, 23 Juli 1943 dan 13 Maret 1981. Posisi episentrumnya, gempa 1867 : 8,7 LS 110,8 BT dengan guncangan 8 - 9 MMI. Gempa 1937 : 8,7 LS 108 BT dengan guncangan 8 MMI. Gempa 1943 : 8,6 LS 109,9 BT dengan guncangan 8 MMI dan gempa 1981 : 8,7 LS 110,4 BT dengan magnitude 5,6 SR. Besar guncangan dihitung dari Yogya, dan data episentrumnya saya kutip apa adanya (meski kalo dilihat dari grafisnya, karena semua episentrum berada darat dan dekat dengan Yogya, lintangnya mungkin bukan 8 LS tapi 7 LS).

Kalo saya kaitkan dengan data tahun2 letusan Merapi (berdasarkan Suparto S. Siswowidjojo di http://vsi.esdm.go.id) yang dicatat sejak 1871, ketika gempa 1937 Merapi justru sedang beristirahat (antara 1935 - 1939) dan baru meletus lagi dengan puncaknya pada 23 Desember 1939 serta 24 Januari 1940. Pada gempa 1943, Merapi sedang memasuki tahap akhir meletusnya setelah mencapai puncak letusan pada Juni 1942 (dan disebutkan Merapi istirahat pada masa 1943 - 1948). Dan saat gempa 1981, Merapi memang sedang aktif2nya (dengan letusan antara 1975 - 1985 alias 10 tahun periode terpanjang dalam catatan) dengan puncak
letusan pada 15 Juni 1984. Untuk gempa 1867 mohon maaf tidak ada catatan keaktifan Merapi saat itu. Kalo dilihat dari sini hanya gempa 1981 (dan juga gempa 2006 ini) yang terjadi bersamaan dengan meningkatnya aktivitas Merapi. Apakah kemudian bisa dikatakan kalo gempa2 kuat di Yogya seperti gempa 2006 ini berkaitan dengan kegiatan Merapi, seperti pendapat Dr. Surono (PVBMG Dept. ESDM), Dr Benyamin Sapi'ie (Teknik Geologi ITB) dan USGS ? Saya merasa koq tidak begitu ya, jika melihat waktu2 terjadinya gempa kuat Yogya tidak selalu sinkron dengan saat2 aktivitas Merapi.
Apalagi Dr. Fauzi (dari BMG, kemarin saya salah menyebutnya dari BPPT) pernah berpendapat aktivitas dapur magma justru membuat patahan didekatnya menjadi ' lunak ' hingga aseismik. Bagaimana menurut anda ?
Saya berpendapat bahwa kegiatan Gunung Api sendiri merupakan rangkaian kegiatan tektonik. Sehingga saya yakin ada hubungan diantara keduanya. Yang meyulitkan adalah ketika kita mencoba merangkai apakah Gunung Api memicu kegempaan atau gempa memicu volkanisme. Saya kira bisa dua-duanya. Hanya saja kita perlu hati-hati mengkajinya. Salah satu nya dengan kronologi kejadian tersebut.
Saya sendiri yakin hubungan feedback-effect (bolak-balik) keduanya. Nah yg lebih menyulitkan kalau dihubungkan dengan tektonik regional dan global.
Gempa Aceh dengan kekuatan 9.2 SR akhir tahun 2004 lalu sangat mungkin sebagai pemicu gempa di Nias, Bengkulu, serta aktifitas Gunung Api di Sumatra dan Jawa barat (Merapi dan Tangkuban Perahu). Jarak antara lokasi-lokasi ini sangat jauh, tetapi urutan kronologisnya memang seperti itu. Hanya saja kita mesti tahu bahwa hubungan kronologis (urutan) belum tentu menunjukkan hubungan kausalis (sebab akibat).
Kembali ke gempa 2006 ini, kalo soal daerah2 yang rusak parah - moderat akibat gempa ini, sepertinya sudah ada petanya berdasarkan foto satelit. Dapat saya tambahkan disini, berdasarkan koran lokal, di Piyungan - Patuk jalan beraspalnya retak2 dan beberapa terbelah (kalo menurut data EMSC, daerah ini adalah episentrumnya). Di Prambanan Stasiun KA-nya hancur, tinggal dinding2nya saja, sementara stasiun2 KA lain tidak separah itu. Rel KA pada ruas Prambanan - Srowot ada yang bengkok, bahkan patah. Di sekitar Klaten pula ada penduduk yang menyaksikan muncratnya air berlumpur setinggi +/- 2 m di pekarangan rumahnya ketiga gempa meletup (mungkin sand volcano ya pak Rovicky, atau akibat liquiefaction ?). Mata air besar di Jl. Kaliurang km 10 sekarang mengeluarkan air berlumpur (liquiefaction juga ?). Di kota Bantul - yang saya lihat sendiri - ada jalan yang aspalnya juga terbelah. Kalo untuk Parangtritis, terus terang saya belum punya gambaran, kemarin tidak bisa sampai ke sana. Demikian pula dengan posisi jembatan Kretek - di atas Sungai Opak dan persis juga di atas patahan - belum ada informasinya apakah retak / bergeser apa tidak. Yang jelas tidak diragukan lagi kalo gempa ini terkait dengan aktivitas patahan Opak, seperti yang anda duga.

RDP :
Peta kerusakan yang saya peroleh dari UNOSAT menunjukkan daerah piyungan Patuk sangat parah. Daerah ini paling dekat dengan aftershock. Dan inilah yang saya kira bener-bener menunjukkan bahwa aftershock lebih membahayakan ketimbang mainshock, karena kondisi bangunan yg sudah rapuh dihantam mainshock.

Tempat-tempat yg mengalami kerusakan terutama disebelah barat dari lokasi gempa ini. Mengapa ?
Selain daerah kerusakan ini lebih padat penduduk dibandingkan sebelah timur yg berupa pegunungan selatan, daerah ini dibawahnya terususun oleh batuan lunak yg akan meredam energi gempa artinya terjadi percepatan gelombang dilokasi ini. Bayangkan kalau energi diserap disini artinya banyak energinya yg dilepaskan dalam menggetarkan daerah ini. Bagian timur dari daerah ini berupa perbukitan terdiri atas batuan keras. Dengan demikian energi gelombang akan melewatinya dan percepatan gelombangnya relatif lebih kecil dan daya rusaknya juga lebih kecil. Namun gelombang gempa ini menjalar jauh kearah timur. Bahkan menurut laporan USGS getaran ini dirasakan hingga di daerah Bali.

Memang luar biasa kalo gempa dengan magnitude Mb = 5,9 SR ini (Mw = 6,3) ternyata bisa mematahkan rel KA, satu hal yang - menurut saya - tidak mungkin kecuali jika ada patahan di bawah rel KA itu yang bergeser. Dan kalo saya (iseng) menghitung, dengan panjang patahan 100 km (menurut BMG) dan lebar (anggap saja) 20 km (terkaan sangat kasar dari distribusi episentrum aftershock-nya), patahan ini telah bergeser 7,5 cm (jika merunut pada nilai momen seismik versi USGS).

Saya sendiri kurang paham apakah gempa 1867, 1937, 1943 dan 1981 juga berkait dengan patahan ini, bagaimana menurut anda ?

RDP
Pengetahuan gempa yg disebabkan oleh aktifitas tektonik sendiri baru diketahui beberapa dekade belakangan ini. Teori plate tektonikpun juga baru setengah abad yang lalu diketahui. Artinya menghubungkan keduanya harus dilakukan ulang dengan menggunakan teori baru. Kita harus mencoba memisahkan gejala gempa yg dipicu volkanis dan sebaliknya. Lokasi-lokasi episenter jaman dulupun belum tentu memiliki ketepatan yg diharapkan membantu analisa ini. Data kegempaan yg saya milikihanya setelah tahun 1960 (dari USGS). Sehingga hanya satu gempa besar (1981) yg masuk dalam database.
MS
Saya tertarik dengan masa depan dari aktifnya patahan ini. Kalo orang2 berpendapat patahan ini bergerak kembali akibat meningkatnya aktivitas Merapi, menurut saya koq sebaliknya ya. Berkaca dari Gempa Filipina Juni 1990 - yang juga ditimbulkan oleh patahan geser dengan episentrum 100 km dari Gunung Pinatubo - yang diduga kuat membangunkan Gunung Pinatubo (setelah tertidur 600 tahun) dan menimbulkan erupsi ultraplinian di Juni 1991, saya berpendapat justru aktivitas patahan Sungai Opak ini bisa memicu dapur2 magma disekitarnya (Merbabu, Merapi, Lawu). Apalagi Merbabu dan Lawu sudah sangat lama tertidur, sementara
Merapi punya sejarah erupsi dahsyat di masa silam (seperti kata van Bemmelen).
RDP
Saya juga sekarang konsen dengan patahan-patahan selatan Pulau Jawa. Mulai dari Patahan Cimandiri , hingga Patahan Opak (Opak Fault), Grindulu Fault serta patahan-patahan di Tulung agung. Patahan-patahan ini perlu diteliti lebih lanjut tentunya, terutama sisi seismisitasnya. Banyak diantara daerah ini yamng merupakan seismic gap (tidak ada aktifitas seismic dalam beberapa waktu (decade) lalu.
MS
Tentang Merapi, meski sudah lama saya membaca teorinya van Bemmelen tentang erupsi dahsyat 1006 M yang memaksa migrasi Kerajaan Mataram Hindu ke Jawa Timur, sebelumnya saya merasa ragu. Apalagi pak MT Zen - yang ber kali2 mendaki Merapi - dalam sarasehan menyambut VIG 2006 kemarin menyatakan tidak ada endapan vulkanik sangat asam sebagai bukti terjadinya erupsi eksplosif di Merapi. Namun pasca gempa 2006 ini - dan setelah secara kebetulan membaca erupsi Gunung St Helena 1980 di Wikipedia - saya jadi ada gambaran tentang (kemungkinan) letusan Merapi saat itu. Mungkin saja letusan itu didahului dengan gempa kuat seperti gempa 2006 ini, dengan episentrum persis di bawah lereng barat Merapi, hingga lereng itu ambrol, longsor ke barat daya mengubur candi Borobudur, sekaligus membuka
diatrema hingga ke puncaknya. Akibatnya magma pada reservoir di bawah puncak Merapi langsung berhubungan dengan udara luar, hingga langsung keluar menghasilkan erupsi besar tipe plinian. Mekanisme sejenis juga berlangsung menjelang erupsi St Helena dan saat itu
magnitud gempanya pun tak besar (5,1 menurut USGS) Tapi sudah cukup membuat lereng utara gunung (dan juga cryptodome di puncaknya) rontok dengan volume ultragigantik (3 milyar meter kubik). Bagaimana menurut anda ?


RDP
Sepertinya status AWAS Gunung Merapi harus dipertahankan selama beberapa waktu mendatang. Memang banyak indikasi bahwa aktifitas gempa yg memicu aktifitas gunung api sudah banyak dijumpai, walaupun tidak spesifik untuk Gunung Merapi. Secara proses pembentukannya keduanya memang saling berhubungan sejak terciptanya bumi ini. Saat ini hanyalah proses kelanjutan dari proses terciptanya bumi dengan segala aktifitasnya.

Saturday, May 06, 2006

Nuklir untuk Listrik Indonesia

Segera, Nuklir untuk Listrik Indonesia
Sumber : MAJALAH PROYEKSI. Edisi XX, Tahun 2, 16 April - 15 Mei 2006

Sudah tiga kali Indonesia mencoba mewujudkan produksi listrik berkapasitas sangat besar dengan teknologi nuklir. Sekali terhenti karena persiapan belum matang, kedua karena biaya seret akibat krisis moneter. Kini upaya ketiga berjalan lebih fisibel.

Lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) ditetapkan berada di Kabupaten Jepara, pantai utara Semarang, tepatnya di Semenanjung Muria. Penetapan tapak lokasi menghabiskan waktu paling lama dari keseluruhan tahap mewujudkan PLTN.

"Ini bukan proyek main-main," ujar kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Prof. Soedyartomo Soentono, PhD, menanggapi kesan berlarutnya ide lama yang belum terealisasi hingga kini.

Masih dibutuhkan banyak model regulasi sehubungan nuklir untuk listrik yang baru pertama ingin diterapkan di Indonesia ini. Birokrasi pemerintah belumlah mapan. Dengan sistem birokrasi seperti yang ada sekarang ini, bangsa Indonesia belum bisa menikmati listrik dari PLTN secepatnya. Harus lebih bersabar, berjalan perlahan sambil belajar dan mengutamakan keselamatan.



Sejak lama BATAN sudah meneliti nuklir dan hasilnya telah diterapkan untuk berbagai keperluan seperti pengawetan makanan, bibit varietas unggul tanaman, teknologi medikal, pengolahan air minum, melacak kandungan minyak bumi dan sebagainya.

Perencanaan energi nasional

PLTNN adalah proyek jangka panjang. Meski diputuskan untuk dikerjakan sekarang, tetapi baru 10 tahun kemudian dapat merasakan realisasinya. menurut Dr. Arnold Y Soetrisnanto, Kepala Pusat Pengembangan Energi Nuklir BATAN, kita sebenarnya terlambat memilih opsi nuklir untuk energi, "Seharusnya sejak tahun 1970-an dulu", katanya menyayangkan.

Kapasitas listrik nasional sekarang 33 Giga Watt electric (GWe). Pada 2025, dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi 6 %, dapat diperkirakan kebutuhan listrik meningkat 3 kali lipat menjadi 100 GWe. Sekitar 30% dari kebutuhan itu atau, sekitar 70 GWe berada di Pulau Jawa.

"Perpres no 7/ 2005 menetapkan energi baru dan terbarukan sumbangannya harus minimal 5% dari kebutuhan energi nasional pada 2025. Dengan strategi optimalisasi pengelolaan energi, BATAN menargetkan pada 2035 bisa 15% kontribusi energi dari nonfosil tersebut.

Energi baru dan terbarukan di antaranya microhydro, surya, angin, biomassa, biofuel, fuelcell dan nuklir. Dari 5% yang ditargetkan, 2%, disumbang nuklir dan 3% oleh lainnya. Nuklir sebesar 2% untuk total kebutuhan energi nasional itu setara dengan 4% dari kebutuhan total energi listrik nasional.

Kecil sekali kontribusi nuklir di saat giatnya upaya pengurangan energi dari sumber minyak. BATAN memprediksikan, ke depan, masih batubara yang mendominasi bahan baku energi. Gas sebagai alternatif utama pengganti BBM tidak bisa diharapkan menjadi unggulan, sudah banyak kontrak penjualan ke luar negeri yang harus dipenuhi pemerintah.

Sarana distribusi bahan baku seperti pengangkutan batubara dan penyaluran gas ke pembangkit yang belum tersedia merupakan masalah biaya tersendiri yang tidak murah.

Sikap Yayasan lembaga konsumen Indonesia (YLKI) yang disampaikan pengurus hariannya, Tulus Abadi, menyesalkan kebijakan migas yang dibuat mengutamakan penjualan ekspor gas ke luar negeri. Cuma 25% saja untuk dalam negeri.

Cadangan potensial energi panas bumi nasional totalnya 219 juta SBM, ini termasuk besar di dunia. Kenyataannya jika dijadikan energi listrik cuma ekuivalen 19,66 GW. Pemenuhan kebutuhan listrik di masa depan tak bisa berharap banyak dari panas bumi.

Sejarah panjang PLTN Indonesia

Indonesia pertama kali melakukan persiapan pengembangan listrik tenaga nuklir pada tahun 1970 akhir. Baru melangkah sedikit, upaya tersebut tertunda. BJ Habibie sebagai Menristek, yang merancang percepatan perkembangan teknologi di Indonesia saat itu, meminta adanya pusat riset dan pengembangan reaktor lebih dulu. Ketika tiba saatnya putra Indonesia sudah siap menerima transfer teknologi, dibangunlah puspitek nuklir di Serpong.

Puspitek Serpong selesai tahun 1987. Untuk kedua kalinya Indonesia mengadakan percobaan pengembangan nuklir untuk listrik, feasibility study dimulai 1990 dan selesai 1996. BATAN diminta meneruskan desain pelaksanaan dan pengoperasian nantinya.

Tahun 1997, laporan kepada pemerintah menyebutkan bahwa PLTN siap dibangun dan dijadwalkan dapat beroperasi 2004. BJ Habibie yang telah menjabat sebagai presiden waktu itu tidak cukup kuat mewujudkan PLTN. Situasi politik tidak kondusif dan masih dalam situasi krisis moneter. Akibatnya mementahlah semua rencana.

Abdurrahman Wahid yang menjabat presiden RI pada tahun 2000 kedatangan tamu seorang ilmuwan penerima nobel dari Mesir. Pembicaraan mengarah ke pemanfaatan teknologi seperti yang dikembangkan ilmuwan muslim zaman dulu bagi kemaslahatan umat, kembali timbul rencana studi mewujudkan PLTN di Indonesia.

Tahun 2003, studi selesai dan dilaporkan kepada pemerintah. Tapi tampuk pemerintahan sudah berganti ke Presiden Megawati. Program persiapan pun terus dilanjutkan dengan rencana operasi PLTN 2016, tetapi dengan konstelasi yang sudah berubah. Undang-undang ketenaganukliran No 10 Tahun 1997 menetapkan BATAN hanya menangani riset dan pengembangan, realisasi proyek dan pengoperasian dikerjakan BUMN, swasta atau koperasi, di bawah kordinasi Departemen Energi dan Sumber Daya Manusia.



Sampai sejauh ini pemerintah kelihatannya sungguh-sungguh ingin mewujudkan PLTN, legislatif juga tidak keberatan. Peppres No 5 Tahun 2005 tentang Kebijakan Energi Nasional sudah memasukkan opsi nuklir. Rencana Umum Kelistrikan Nasional (RUKN) juga sudah memasukan opsi nuklir.

Persiapan makin matang. 2008 direncanakan tender perusahaan yang mengerjakan PLTN dilakukan. Konstruksi diperkirakan mulai 2010, dan operasi 2016. untuk mewujudkannya, akan dibentuk tim gabungan antar departemen dan unsur terkait lainnya, tugasnya menetapkan badan usaha yang akan mengelola, juga mengusahakan pembiayaan proyek PLTN.

Satu lembaga independen yang bertanggung jawab langsung kepada presiden telah dibentuk untuk mengawasi semua upaya ini, juga sebagai regulator, namanya BAPETEN (Badan Pengawas Tenaga Nuklir). BAPETEN ini diawasi lembaga internasional khusus mengenai nuklir.

Bahan baku uranium

Negara paling besar ekspor uraniumnya adalah Australia. Berikutnya Kanada dan disusul Afrika Selatan. Di Kalimantan Barat ada uranium kita yang sudah coba diolah. Free market sekarang ini memungkinkan kita membeli dari negara mana saja. Harga uranium masih cukup bersaing dengan batu bara dan gas. Mumpung masih murah, baiknya disimpan dulu cadangan uranium buat anak cucu, karena kita masih mampu membeli dari luar.

Stok uranium besar sekali di pasar dunia, harganya relatif tidak terkait langsung dengan flukstuasi harga minyak dunia. Kenaikan harga hanya berkaitan dengan transportasi pengangkutannya yang membutuhkan bahan bakar minyak.

Alasan lain mengapa BATAN mengusulkan membeli dari luar adalah cadangan Indonesia ada, tetapi konsentrasinya kecil. Di Australia misalnya dalam seratus kilogram tanah terdapat 50 kg uranium. Di Indonesia dalam satu ton tanah yang digali dari penambangan paling hanya ada 100 kg uranium.



Teriakan antinuklir

Sejak tahun 1994 lembaga Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menolak adanya PLTN di Indonesia. Alasannya dari mulai penambangan uranium sampai penanganan limbahnva dan resiko kebocoran dapat menimbulkan masalah. Usia pakai PLTN terbatas sekitar 30 atau 40 tahun. Ketika dinding kubah penahan reaktor jenuh oleh radioaktif, produksi harus stop, dan setelah itu lahan tempat PLTN menjadi nonpruduktif karena tidak boleh diapa-apakan lagi. Seperti ladang berpindah, reaktor harus dibangun di tempat lain lagi, tetapi jangka waktu siklus lahan bisa berabad-abad untuk dapat produktif lagi.

Budaya pungutan liar dan mark up proyek di Indonesia bisa menimbulkan bencana besar. "Apa garansi proyek PLTN dengan teknologi yang seharusnya zero tolerance tidak terjadi pengurangan nilai spesifikasi?" tanggap Pantoro Tri Kuswardono dari Walhi.

Menurut Pantoro, masih banyak energi baru terbarukan seperti microhydro yang belum dimanfaatkan secara optimal. Arus air di sungai-sungai dan laut bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Panas yang dihasilkan sampah juga bisa digunakan untuk menggerakkan turbin.



Kemungkinan Listrik murah

Tarif dasar listrik (TDL) di Indonesia mencapai US$ 6,5 sen per kWh, lebih tinggi dari beberapa negara tetangga. Biaya iuran listrik bagi pelanggan di Malaysia hanya US$ 6,2 sen per kWh, di Thailand US$ 6,0 sen per kWh dan di Vietnam cuma US$ 5,2 sen per kWh.

Demonstrasi menentang kenaikan TDL terjadi di mana-mana. Baru-baru ini PLN menyatakan defisit anggaran. Ongkos produksi listrik yang tinggi menjadi landasan PLN menaikkan tarif jika permintaaan subsidinya tidak dipenuhi. Audit BPK menemukan defisit tidak sebesar perhitungan PLN, banyak inefesiensi terjadi di tubuh PLN.

Alternatif operator PLTN Muria akan di serahkan ke PLN atau dibentuk BUMN baru khusus. PLN kelihatan paling siap. Jika nantinya pegelolaan PLTN di swrahkan ke PLN mungkin saja inefesiensi tetap terjadi. Lantas, kapan listrik murah bagi masyarakat?

Produksi listrik swasta skala kecil untuk lingkungan sendiri sudah banyak. Mereka memproduksi dengan biaya lebih murah, mematok tarif sama dengan PLN tetapi melayani dengan kualitas lebih baik. Seandainya ada persaingan penjual listrik nasional, tentu harga TDL akan sangat bersaing. Itu artinya monopoli penyedia listrik ditiadakan. Mungkinkah? (Taufiq)

Sumber : MAJALAH PROYEKSI. Edisi XX, Tahun 2, 16 April - 15 Mei 2006

Tuesday, May 02, 2006

Rumittt-nya bagi hasil Cepu

Saya membaca diskusi tentang Bagi Hasil di Blok ini berulang-ulang kok masih ngga mudeng ....
ya wis simpen dulu saja.

rdp
===============================================

Pak Kuswo,

Yang dibagi antara Pemerintah dan Pertamina 60% : 40% ini apanya Boss? Pemahaman saya semula adalah ini KKS adalah KKS normal di mana untuk blok itu splitnya adalah 85% Pemerintah dan 15% Kontraktor (siapapun kontraktornya) atau sesuai dengan kondisi-kondisi yang ,memuat parameter harga Minyak Mentah dunia. Nah dengan split seperti ini, maka jika ternyata kontraktornya adalah dua atau lebih entitas bisnis maka pembagian di antara para entitaas itu tidak lagi dicampuri oleh Pemerintah namun ditentukan sendiri di antara para entitas itu sesuai sharenya masing-masing.

Mungkin saya yang salah menangkap penjelasan Pak Kuswo, tetapi kalau antara Pemerintah dan Pertamina masih berlaku 60% : 40% tampak seprti ada dua kondisi yang tumpang tindih. Di satu pihak untuk keseluruhan Blok sudah ditentukan :

- Pemerintah 70% Kontraktor 30% jika harga di bawah 35$

- Pemerintah 75% Kontraktor 25% jika harga antara 35 – 40 $

- Pemerintah 80% dan Kontraktor 20% jika harga antara 40 – 45$

- Pemerintah 85% dan Kontraktor 15% jika harga di atas 45$

Di sisi lain Pertamina sebagai salah satu penandatangan JOA operasi Blok tersebut masih dikenakan kondisi 60% Pemerintah dan 40% Pertamina. Terus terang ini agak complicated, ataukah ini mungkin variant ke 3 dalam KKS yang model baru ini Pak Kuswo?

Wassalam,

Ganapati


From: pertamina@yahoogroups.com [mailto:pertamina@yahoogroups.com]
Sent: Friday, March 24, 2006 3:11 PM
To: pertamina@yahoogroups.com
Subject: RE: [Pertamina] Forum BUMN 23 Maret 2006 mengenai Cepu

Nimbrung sedikit, kebetulan saya punya kontraknya.

Khusus untuk PSC Cepu, pembagian "Participating Interest" (bukan "Divided Interest") adalah 45% Pertamina, 45% EMOI, dan 10% BUMD.

Bagian EMOI dipotong FTP 10% semua untuk pemerintah, tanpa dibagi kepada EMOI. Setelah dikurangi Cost Recovery, EMOI sebagai PSC akan mendapatkan hasil pembagian (split) sebagai berikut: bila harga minyak <>

Sedang untuk Pertamina dan BUMD, dipotong FTP 5% setor ke pemerintah, dikurangi 45% dan 10% “cost recovery”, sisanya langsung dibagai 60-40% (sudah termasuk pajak, tanpa gross up), dikurangi DMO dan ditambah DMO Fee.

Selain itu dalam kontrak PSC disebutkan, harus membayar 20 juta US$ kepada negara (Dep Keu) sebagai syarat "bonus", dengan rincian: 5 juta US$ (signature bonus), 10 juta US$ (persetujuan commercial), 5 juta US$ (first production).

Beberapa option lain (dalam Kesepakatan antara Ptmn + EMOI) adalah: EMOI harus membayar 70 juta US$ kepada Pertamina pada tahun pertama dan 330 juta US$ selama 3 tahun dalam bentuk "in kind"; menyerahkan struktur Sukowati dan Kedung Tuban kepada Pertamina;

Jadi angka 400 juta US$ BUKAN JUAL-BELI SAHAM, tetapi kompensasi EMOI kepada Pertamina dengan adanya perubahan kontrak TAC menjadi PSC. Kesepakatan tersebut memang tidak termasuk dalam Kontrak PSC, sehingga TIDA! K DAPAT termasuk Cost Recovery EMOI.

Jadi jelas, sebenarnya PSC yang sekarang lebih menguntungkan buat masyarakat Indonesia. Pertanyaannya, mengapa EMOI mau???

Jawabannya adalah karena pada waktu TAC semua risiko ditanggung EMOI, kalau gagal dalam perkiraan reverves dan produksi modal EMOI tidak kembali. Dalam PSC sekarang, EMOI hanya menanggung 45% risiko, karena semua biaya yang timbul akan dibayar para partner dengan cara “cash call”. Artinya rugi bareng2…!

Sebenarnya kalau yang sudah biasa dalam bisnis perminyakan akan tahu tentang rik-trik begitu.

wass. wr. wb, --ksw

Ganapati Sjastri Satyani wrote:

Dari penjelasan di bawah ini kayaknya jelas Pak Irvan bahwa splitnya adalah
antara Pemerintah dan EMOI yang besarannya berkisar antara EMOI 30 %
Pemerintah 70% sampai EMOI 15% Pemerintah 85%. Jadi bukannya antara
Pemerintah dan Pertamina. Kalau demikian bisa jadi memang posisi Pertamina
sudah dari sononya bukan sebagai "pemimpin" dalam arti dia yang share down
tetapi seolah-olah Pertamina yang ngikut karena splitnya itu antara
Pemerintah dan EMOI.

Wassalam,


-----Original Message-----
From: pertamina@yahoogroups.com [mailto:pertamina@yahoogroups.com]
Sent: Friday, March 24, 2006 1:25 PM
To: Kuswo Wahyono
Cc: TM ITB; Pertamina
Subject: [Pertamina] Forum BUMN 23 Maret 2006 mengenai Cepu

Jadi kesimpulannya ,Pak Kuswo ,apa yang dikatakan ole Peserta Forum BUMN ,
TV Metro sangat menyimpang sehingga dapat memutarbalikkan fakta sebenarnya
sekaligus berdampak terhadap terjadinya " kebohongan publik " ( yang paling
tidak pantas dinyatakan Pejabat petinggi Pemerintah yaitu Menteri ESDM ,
Purnomo Yusgiantoro dan Ketua Dewan Komisaris Pertamina , Bp. Martiono ) .
Mudah-mudahan pernyataan dimaksud bukan disengaja !!!!!

----- Original Message -----
From: "Kuswo Wahyono"
To:
Sent: Friday, March 24, 2006 9:59 AM
Subject: Japri ==> RE: [tmitb] Forum BUMN 23 Maret 2006 mengenai Cepu


Ass. Wr. Wb; Melalui Japri saja.
Apa khabar pak Haji? Alhamdulillah kami sekeluarga baik2 saja, semoga pak
Fauzi sekeluarga demikian juga.
Saya akan mencoba menjawab pertanyaan pak Fauzi sesuai dengan kontrak PSC
dan surat kesepakatan antara PERTAMINA dengan EMOI yang ada.

Khusus untuk PSC Cepu, pembagian "Participating Interest" (bukan "Divided
Interest") adalah 45% Pertamina, 45% EMOI, dan 10% BUMD. FTP 10% semua untuk

pemerintah, tanpa dibagi kepada KKKS.
Setelah dipotong Cost Rec, EMOI sebagai PSC akan mendapatkan hasil pembagian

(split) sebagai berikut: bila harga minyak < US35$/bbl pembagian 30-70%
(EMOI:Pemerintah), bila 35$/bbl-40$/bbl pembagian 25-75%, bila
40$/bbl-45$/bbl pembagian 20-80%, bila di atas 45$/bbl maka pembagian
15-85%. Sehingga bila kita kalikan dengan Participating Interest 45%, maka
keuntungan EMOI dari WKP Cepu berkisar antara 13,5% sampai 6,75% terhadap
hasil bagi (profit oil/Equity to be split) produksi Lapangan Cepu. PSC Cepu
harus membayar 20 juta US$ kepada negara (Dep Keu) sebagai syarat "bonus",
dengan rincian: 5 juta US$ (signature bonus), 10 juta US$ (persetujuan
commercial), 5 juta US$ (first production).

Beberapa option lain (dalam Kesepakatan antara Ptmn + EMOI) adalah: EMOI
harus membayar 70 juta US$ kepada Pertamina pada tahun pertama dan 330 juta
US$ selama 3 tahun dalam bentuk "in kind"; menyerahkan struktur Sukowati dan

Kedung Tuban kepada Pertamina;
Jadi angka 400 juta US$ BUKAN JUAL-BELI SAHAM, tetapi kompensasi EMOI kepada

Pertamina dengan adanya perubahan kontrak TAC menjadi PSC. Kesepakatan
tersebut memang tidak termasuk dalam Kontrak PSC, sehingga TIDAK DAPAT
termasuk Cost Recovery EMOI.

Wass. Wr. Wb, --ksw--

-----Original Message-----
From: M. Fauzi A. Alkaff [mailto:gmepkra@indosat.net.id]
Sent: 24 Maret 2006 5:58
To: Pertamina
Cc: TM ITB
Subject: [tmitb] Forum BUMN 23 Maret 2006 mengenai Cepu

------------ tmitb@nusantara.net no. 4183 ------------

Mungkin ada rekan-rekan yang dapat memahami atau menjelaskan pernyataan
Menteri ESDM Purnomo Y yang menjawab pertanyaan Pemirsa TV Metro yaitu "
Pertamina sangat diuntungkan karena selain mendapat 6.75% dari total income
( setelah dipotong Cost dll. ) juga mendapat income sebesara 40% ( setelah
dipotong cost ) !!!
Juga Pak Martiono menyatakan bahwa Pertamina diuntungkan pula dengan
mendapatkan lapangan Mudi dan satu lapangan( sudah produksi dan
menghasilakan income Pertamina senilai 120 Huta $ ) lainnya yang seingat
Saya memang milik Pertamina ( eks Santa Fee/ JOB , Tuban ) .
Padahal Lapangan Exxon Cepu adalah eks TAC Humpuss ( dipindah tangankan ke
Exxon MOI ) yang tentunya pembagian waktu itu itu 60 : 40 ( Pertamina 40% )
dan sehubungan perubahan Pertamina menjadi Persero , dirubah menjadi areal
PSC/KPS dengan komposisi 85:15 ( Pertamina 15%) . Kemudian versi Menteri
ESDM lagi , Exxon farm in dalam konsesi baru ini membentuk KKS ( Kontrak
Kerjasama ) dengan Pertamina dengan saham 50% .
Tetapi Pemerintah mengacu UU No. 22/2001 meminta kesediaan Exxon MOI dan
Pertamina menyerahkan sebagian saham mereka masing-masing sebesar 5 %
sehingga komposisi konsesi Cepu adalah :
Pertamina = (50-5 ) % x 15 % = 6.75 %
Exxon MOI = (50-5)% x 15% = 6.75 %
Pemda Jateng/Jatim = ( 5 + 5 )% x 15% = 1.5 %
Darimana angka 40% income tambahan Pertamina yang akan dikembalikan melalui
Dep. Keuangan ke Pertamina dan juga bagaimana status jual beli saham
Pertamina senilai 400 Juta $ ?? Apakan ini merupakan cost recovery Pertamina
atau Pertamina terima cash ( Jika Cash , wajar Pertamina melakukan setoran
biaya Investasi/Operasi untuk kegiatan KKS ini ) .

Friday, April 21, 2006

Selamat Hari Kartini .... GeoWoman

Selamat Hari Kartini ....

Women Making Their Mark

Robbie Gries
president and owner, Priority Oil & Gas, Denver

Marjorie Chan
professor and department chair, University of Utah, Salt Lake City.

Evelyn Medvin
vice president, Core Laboratories, Houston.

Brenda Beitler Bowen
post doctorate research assistant, Central Michigan University, Mount Pleasant, Mich.; visiting professional Purdue University (assistant professor, fall 2007).

Deborah Sacrey
president, Auburn Energy, Houston.

Jessica Moore Ali-Abeeb
geologist, Petroleum Systems International, Salt Lake City.

Susan Cunningham
senior vice president, exploration and corporate reserves, Noble Energy, Houston

Sherilyn Williams Stroud
Geo Team leader, Midland Valley Exploration

Siapa ya Indonesian GeoScientist ...
ah aku kenapa malah ngga tahu .... tapi bukan berarti ngga ada, hanya saja aku ngga tahu ...
Btw ... selamat hari Kartini untuk IndoGeoWoman ...

Thursday, April 13, 2006

Harrison Schmitt 04:2006 EXPLORER

Harrison Schmitt 04:2006 EXPLORER

Helium-3 could be an abundant source of fuel for future, fusion-power electrical power plants, and Schmitt estimated the cost of a privately funded lunar mining program at $15 billion.
Sumber energi di bulan. Helium-3 yg merupakan bahan bakar utk reaksi fusi.

Panas Bumi Hu'u Nusa Tenggara Barat

Pusat Sumber Daya Geologi (PSDG)

Panas Bumi Hu'u Cetak



SURVEI PANAS BUMI TERPADU (GEOLOGI, GEOKIMIA DAN GEOFISIKA)

DAERAH HU’U, KABUPATEN DOMPU, PROVINSI NUSATENGGARA BARAT

Oleh:
Herry Sundhoro, Bakrun, Bangbang Sulaeman, Timor Situmorang,
Eddy Sumardi , Imanuel. MF, Dikdik Risdianto, Liliek. R. R.

SUBDIT PANAS BUMI


ABSTRACT

The Hu’u geothermal area is located in the southeastern part of the middle Sumbawa island. Most thermal features occur in an area souronding the NW-SE trending fault. The surface features presumably indicate the potency of geothermal resources beneath the area. These features include hot springs, fumarole and also altered rocks. The Distribution of the surface features occurs at elevations between 90 to 500 m above sea level, and the temperatures are between 37 and 80° C.

Geological, geochemical and geophysical surveys recognized a geothermal prospect area located in the up-flow system of the Hu’u geothermal area. The prospects covers an area of about 10 km2 recognized by mercury and CO2 high distribution. Possible reserve of the geothermal energy of Hu’u area is about 69 MWe.

SARI

Daerah panas bumi Hu’u terletak di sebelah tenggara bagian tengah P. Sumbawa. Manifestasi panas umumnya berada disekitar daerah patahan yang berarah baratlaut-tenggara. Manifestasi permukaan yang mengidentifikasikan akan adanya potensi panas bumi di kedalaman berupa kelompok pemunculan mata air panas, fumarola dan juga daerah alterasi. Mata air panas tersebut berada pada ketinggian diantara 99-500 m dpl dan bersuhu antara 37 hingga 80° C.

Hasil survei geologi, geokimia dan geofisika telah bisa membatasi daerah up-flow dan daerah prospek panas bumi seluas ± 10 km2. Perkiraan daerah prospek ini didasarkan pada hasil anomali mercuri/Hg and CO2 dengan besarnya estimasi cadangan terduga sekitar 69 MWe.


PENDAHULUAN

P. Sumbawa terletak di jalur gunungapi (volcanic belt) orogen Sunda. Sepanjang jalur ini banyak terdapat pemunculan manifestasi panas bumi, yang mengidentifikasikan adanya potensi energi panas bumi di kedalaman. Potensi ini apabila di kelola secara baik dan terencana akan bisa menghasilkan energi listrik berasal dari energi panas bumi.

Beberapa penyelidik terdahulu menyebutkan bahwa di Hu’u-Daha, Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat terdapat manifestasi panas bumi berupa mata air panas dan batuan alterasi.

Selain itu wilayah Kabupaten Dompu ini tidak memiliki potensi sumber energi fosil seperti minyak bumi, gas maupun batubara sehingga konsumsi energi untuk penduduk dan daerah harus dipasok dari wilayah lain yang mengakibatkan nilai subsidi menjadi lebih besar. Dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang dari waktu ke waktu semakin meningkat perlu diupayakan untuk mencari sumber energi alternatif yang berasal dari bumi Kabupaten Dompu sendiri. Salah satunya adalah energi panas bumi.

Berdasarkan data tersebut, maka perlu dilakukan penyelidikan panas bumi terpadu berupa survei geologi, geokimia dan geofisika dengan maksud untuk mengidentifikasi karasteristik geologi berupa urutan dan sebaran batuan, struktur geologi, alterasi dan perangkap panas yang ada di daerah Hu’u serta untuk mengetahui tipe, sistim, parameter, konfigutasi dan struktur bawah permukaan, sehingga akan diketahui luas daerah prospek, daerah dis-charge dan re-charge, model panas bumi, potensi cadangan panas bumi “terduga” dan temperatur fluida bawah permukaan di daerah Hu’u.

LOKASI PENYELIDIKAN

Daerah selidikan berada di wilayah Kecamatan Hu’u-Rasabau, Kabupaten Dompu, Provinsi NTB. Luasnya ± 32 X 27 km2 yang berada pada posisi geografis 124o50’03”-125o08’02” BT dan 08o08’35” -08o23’43” LS (Gambar 1).

METODA PENYELIDIKAN

Penyelidikan panas bumi terpadu di Hu’u, NTB memakai 3 metoda, yaitu: geologi, geokimia dan geofisika. Penyelidikan difokuskan pada tubuh vulkanik Puma dan Wawosigi yang berumur Miosen dan mempunyai manifestasi panas di Desa Hu’u dan Daha. Sebelum pelaksanaan survei dilakukan persiapan yang meliputi telaahan Citra (image) Landsat yang datanya diadobsi dari (www.landsat.org, 2001).

Penyelidikan geologi lapangan menggunakan lintasan peta secara random. Pengamatan data memakai alat GPS/Global Positioning System. Data dan sampel batuan yang selektif diolah dan dianalisis untuk mendapat hasil simpulan, sedangkan umur batuan diambil dari referensi.

Pengamatan geokimia dan geofisika difokuskan di daerah menifestasi dengan grid lintasan berjarak 1000 X 250 m. Panjang lintasan A, B, C, D dan E 7000 m, E, F-6500 m dan G-5500 m yang memotong struktur geologi dan disesuaikan kondisi topografi.

Dalam penyelidikan geokimia diambil sampel air panas, Hg tanah dan CO2 udara tanah untuk analisis laboratorium. Analisis air panas menghasilkan konsentrasi kation dan anion unsur major, isotop 18O dan deuterium. Selanjutnya ditetapkan tipe dan berpengaruh lingkungan dengan cara pengeplotan kedalam diagram segitiga Cl-SO4-HCO2, Cl/100-Li-B/4 dan Na/1000-K/100-ÖMg, sedangkan penghitungan Geotermometer air panas menggunakan unsur SiO2, Na/K, Na-K-Ca atau K-Mg.

Sampel tanah dan udara tanah pada kedalaman 1 m di 102 titik lintasan dianalisis kandungan Hg dan CO2. dan dibuat sebaran kontur anomali untuk indikasi daerah up-flow.

Dalam penyelidikan geofisika dipakai 4 cara, yaitu geo-magnet, gaya berat, geo-listrik dan Head-On. Pengukuran geo-magnit dilakukan di 224 titik amat dari 188 titik ukur di lintasan dan 36 titik amat regional dengan jarak 500 m. Pendataan intensitas magnit dilakukan dengan memakai 4 set alat magnetometer tipe G-856, G-836 dan G-826 dengan ketelitian dari 0.1, 1.0 dan 10 gamma dan harga IGRF 45.210 gamma serta variasi harian dengan harga fluktuasi antara 45.125 - 45.212 gamma.

Penyelidikan gaya berat dilakukan untuk identifikasi struktur bawah permukaan. Penentuan densitas batuan dilakukan langsung di laboratorium dari sampel yang diambil, sehingga sesuai fakta sebenarnya di lapangan. Harga rata-rata menunjukkan 2.42 gr/cm3.

Pada penyelidikan geo-listrik dipakai metoda Schlumberger bentangan simetris 2 arah. Pengukuran tahanan jenis semu dilakukan memakai bentangan AB/2=250, 500, 750 dan 1000 m dan dibuat peta anomalinya. Namun bentangan yang representatif untuk kedalaman diambil AB/2= 1000 m. Sedangkan penampang tahanan jenis semu dibuat di setiap lintasan dan pengukuran penampang tahanan jenis sebenarnya dilakukan di 5 titik sounding: C-3000, D-3000 dan 4000, E-4000 serta F-4000.

Pengukuran Head-On dilakukan di 2 lintasan X dan Y dengan interval titik ukur 100 m. Keduanya dibuat tegak lurus struktur dengan jarak elektroda C= 4000 m. Interpretasi struktur head-on dibuat berdasarkan ploting perpotongan kurva tahanan jenis semu dengan sumbu kedalaman sama dengan AB/4 di penampang lintasan X dan Y untuk mendapat arah dan kemiringan sesar.

GEOLOGI

Geologi regional, P. Sumbawa merupakan bagian busur gunungapi Banda. Akibat gejala tektonik banyak terbentuk struktur-struktur lipatan, sesar dan kelurusan vulkanik yang mempunyai arah timurlaut-baratdaya dan baratlaut-tenggara (Bemmelen, 1949). Di utara pulau ini ada G. Tambora yang meletus tahun 1815 (Herdervani 1963).

Perusahaan Listrik Negara/PLN yang pernah melakukan pemetaan geologi di Hu’u dan sekitarnya dalam rangka survei panas bumi pada tahun 1984 menguraikan bahwa: batuan gunungapi yang ada di sini berumur Miosen Bawah dan pada bagian atasnya diendapkan aluvium dan endapan pantai yang berumur Resen.

Geologi daerah penyelidikan

Geomorfologi, berdasarkan kepada bentuk bentang alam, pola aliran sungai, tingkat erosi dan jenis batuannya di daerah Hu’u dapat dikelompokkan menjadi 4 satuan morfologi, yaitu satuan morfologi dataran pantai (SDP), satuan morfologi dataran rendah (SDR), satuan morfologi vulkanik Puma (SVP) dan satuan morfologi vulkanik Wawosigi (SVW) .

Stratigrafi, hasil pemetaan yang didukung interpretasi Citra Landsat dan analisis petrografi contoh batuan yang representatif menunjukkan bahwa di daerah Hu’u dapat dipisahkan menjadi 12 satuan. Urutan dari tua ke muda adalah: satuan lava G. Wawosigi 1/Tmlw 1, Satuan lava G. Wawosigi 2/Tmlw 2, Satuan breksi G. Wawosigi/Tmbw, Satuan aliran piroklastik G. Wawosigi/Tmaw, Satuan lava G. Puma 1/Tmlp 1, Satuan jatuhan piroklastik G. Puma/Tmjp, Satuan lava G. Puma 2 /Tmlp 2, Satuan aliran piroklastik G. Puma/Tmap, Satuan lava G. Puma 3/Tmlp 3, Satuan gamping terumbu/ koral (Qgt), satuan sedimen pantai (Qsp) dan Aluvium (Qa) (Gambar. 2). Hasil pentarikhan jejak belah (fision track dating) dari sampel lava G. Puma menunjukkan batuan itu berumur Miosen Atas (5.8 ± 0.2 Ma).

Struktur geologi, di Hu’u dicerminkan oleh bentuk-bentuk: depresi, kelurusan, paset segi tiga, dinding patahan (gawir sesar), kekar, offset batuan, kelurusan sungai, bukit dan tofografi, zona hancuran batuan/ breksiasi (fracture), manifestasi panas bumi berupa batuan alterasi argilik dan kelompok-kelompok mata air panas. Berdasarkan data itu maka ada 3 perioda pembentukan sesar, yaitu:

- Periode I, sesar-sesar berarah barat-timur, barat baratlaut-timur tenggara dan timurlaut-baratdaya yang merupakan sesar normal tertua. Sesar berarah barat-timur dinamakan sesar Lakei, yang berarah barat baratlaut-timur tenggara dinamakan sesar Hu’u lama dan yang berarah timurlaut-baratdaya dinamakan sesar Daha.

- Periode II, sesar-sesar berarah baratlaut-tenggara, yaitu sesar Madawa serta pasangan sesar Hu’u di utara dan sesar Ncangga di selatan.

- Periode III, sesar-sesar yang berarah utara-selatan (Lamea dan Tolokuta). Kedua sesar ini merupakan sesar normal paling muda. Sesar Lamea ada di teluk Lamea, sedangkan di teluk Tolokuta terdapat sesar Tolokuta dengan blok timur relatif turun (Gambar 2).

Geohidrologi, Daerah re-charge di Hu’u berada pada Satuan Morfologi Vulkanik Wawosigi/SVW dan Satuan Morfologi Vulkanik Puma/SVP yang mencakup ± 65 % seluruh luas daerah. Satuan ini mempunyai puncak-puncak kerucut dengan ketinggian antara 1300-1700 m dpl. Air hujan yang turun sebagian akan meresap ke daerah berelevasi rendah untuk selanjutnya muncul di lembah-lembah berupa mata air. Sedangkan air hujan yang teralirkan di permukaan bumi, akan mengalir sebagai aliran sungai dan menuju laut sebagai run off water.

Daerah dis-charge ada pada satuan Morfologi Dataran Pantai/SDP dan satuan Morfologi Dataran Rendah/SDR yang mencakup ± 35 % dari seluruh daerah penyelidikan. Air hujan/ meteoric water sebagian akan meresap kebawah melalui rekahan (fracture), porositas batuan dan gaya gravitasi untuk menjadi air tanah yang terperangkap jauh di bawah permukaan. Daerah ini menjadi kantong air (catchment area) dan tempat berakumulasinya air tanah, sedangkan sebagian air hujan yang mengalir di permukaan selanjutnya mengalir sebagai aliran sungai menuju ke arah laut.

GEOKIMIA

Mata airpanas dan batuan alterasi, mata air panas di Hu’u ada 9 lokasi, yaitu di Lacoha/APTC, Sori Rewa/APAER atau Ama Eno Rewa, Lapui/APLP (Desa Daha) dan Huu-1/APSH-1 atau S. Huu, Huu-2/APSH-2 atau Sori Owa, Lekai/APLK, Limea/APTL, Ncangga-1/APSC-1 dan Ncangga-2/APSC-2 (Desa Daha). Selain mata air panas di atas di Limea, cangga dan Pure juga ada batuan alterasi hydrothermal bertipe argilik sebagai gejala manifestasi panas bumi permukaan.

Karakteristik, tipe dan lingkungan airpanas, Dari contoh air panas hasil analisis laboratorium dapat ditentukan klasifikasi air berdasarkan kandungan konsentrasi unsur. Klasifikasi ini sangat tergantung pada kondisi air panas itu, pemunculannya, kontaminasi dan pengenceran oleh air di sekitarnya /air permukaan. Hasilnya dalam gambar 3 dan 4.

Kandungan unsur kimia air panas yang di plotkan pada diagram segitiga Cl-SO4-HCO3 menunjukkan bahwa sebagian besar air panas berada dalam tipe bikarbonat (Lacoha, Sori Rewa, Lapui, Lakai, Huu-1, 2 dan Cangga 1), sedangkan air panas Cangga 2 masuk kedalam tipe sulfat dan mata air panas Limea ada dalam tipe klorida (Gambar 3 A). Hasil ploting diagram segitiga Na/1000-K/100-ÖMg menunjukkan bahwa semua mata air panas di atas masuk di daerah immature water (Gambar 3 B). Sedangkan diagram segitiga Cl-Li-B menunjukkan bahwa semua mata air panas berada di lingkungan yang terpengaruh unsur sedimen khususnya air panas Cangga 2 dan juga telah ter pengaruh air laut untuk mata air panas Limea. (Gambar 4).

Klas tipe air panas bikarbonat menunjukkan bahwa konsentrasi HCO3 jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan dengan konsentrasi klorida dan sulfat. Ini akibat dari terlarutnya gas CO2 dari fluida bertemperatur relatif tinggi dari bawah yang terencerkan oleh air permukaan atau kemungkinan juga dari contoh air panas ini yang memang telah terkontaminasi dan didominasi oleh air meteorik/air permukaan. Sedangkan tipe air panas sulfat menunjukkan bahwa air panas ini dominan mengandung konsentrasi SO2 artinya berkemungkinan besar berasal langsung dari bawah pemukaan atau dari suatu reservoar air panas yang banyak mengandung gas-gas vulkanik (up-flow system). Namun mata air panas Limea yang termasuk tipe air panas klorida dengan jelas menunjukkan bahwa secara fisik di lapangan memang berada di pinggir teluk Limea dan telah terkontaminasi air laut. Sehingga tingginya Cl disini bukan dari suatu reservoar panas bumi melainkan dari pengaruh air laut. Daerah immature water menggambarkan adanya pengaruh air permukaan/ air meteorik yang dominan. Walaupun awalnya air panas itu berasal dari wadah fluida panas di kedalaman. Hal tersebut di dukung juga oleh grafik isotop δD (Deuterium) terhadap δ 18O yang menunjukkan bahwa mata air panas Huu, Daha dan Limea cenderung mendekati garis MWL/meteoric water line (Gambar 5). Grafik tadi menjelaskan bahwa mata air panas diatas sudah terkontaminasi oleh air permukaan.

Pendugaan temperatur bawah permukaan, Estimasi pendugaan suhu bawah permukaan/ Geothermometer air panas dihitung dari kandungan unsur kimia contoh air panas Lacoha, Sori Rewa, Lapui, Lakai, Huu-1, 2, Cangga 1, 2 dan Limea. Untuk air panas di diatas yang dominan bertipe bikarbonat juga ada yang bertipe sulfat dan klorida, maka penentukan pendugaan temperatur bawah permukaan yang memenuhi persyaratan dipakai rumus SiO2 conductive cooling dari sampel airpanas Cangga 2. Dari perhitungan geotermometer tersebut diperolah besaran temperatur empiris 180° C. Suhu reservoar sebesar 180° C itu merupakan suhu reservoar berentalpi menengah (medium enthalphy).

Sebaran konsentrasi Hg tanah dan CO2 udara tanah, Hasil analisis contoh tanah dan udara tanah diperoleh kandungan konsentrasi Hg tanah yang bervariasi antara 20-1425 pp dan CO2 udara tanah antara 0.03-1.95 %. Keduanya memiliki nilai ambang batas/ background value sebesar 720 ppb dan 0.60 % (v/v). Data itu selanjutnya di plotkan kedalam peta untuk mendapatkan kontur sebaran Hg tanah dan CO2 udara tanah di kedalaman 1 m (Gambar 6). Hasilnya menunjukkan bahwa anomali Hg dan C02 terfokus di Doro Nangasia, Ncangga dan Doro Wowosigi-Nangadoro dengan arah utara-selatan. Daerah ini merupakan zona-zona lemah tempat munculnya mata air panas Huu 1, 2 dan Cangga 1, 2 akibat sesar Huu, Cangga dan Nangadoro.

GEOFISIKA

Geo-magnet, peta anomali magnit total memperlihatkan beberapa kelurusan baratlaut-tenggara dan baratdaya-timurlaut yang ditafsirkan sebagai struktur.

Anomali magnit tinggi antara 0-670 gamma menunjukkan kutub-kutub magnit yang melingkar di utara, tengah, timurlaut, baratdaya dan selatan dan ditafsirkan sebagai batuan bersifat magnetik sedang-tinggi, batuannya adalah andesit dan lava yang muncul kepermukaan .

Anomali magnit rendah antara 0-886 gamma menyebar di utara, selatan, timurlaut, tengah dan baratdaya, ditafsirkan sebagai batuan bersifat non magnetik berupa batuan ubahan akibat fluida panas bumi.

Anomali magnit sedang antara 0-100 dan 0 sampai -100 gamma tersebar di seluruh daerah ditafsirkan merupakan batuan non magnetik yaitu breksi, tufa (batuan piroklastik).

Anomali Gaya Berat, hasil yang representatif yang ditampilkan disini adalah peta anomali sisa/residual. Peta tersebut merupakan ekstraksi anomali bouguer dengan anomali regional dan merupakan anomali gaya berat lokal. Peta anomali sisa merupakan respon dari batuan bawah permukaan yang relatif dangkal. Berdasarkan kontrasnya dapat ditarik kelurusan kontur yang secara kualitatif diinterpretasikan sebagai patahan di kedalaman. Terdapat lima patahan berarah tenggara-baratlaut dan 2 berarah baratdaya-timurlaut. Peta anomali sisa menunjukkan pola lineasi kontur cenderung berarah tenggara-baratlaut. Dengan harga anomali dikelompokkan menjadi 4, yaitu anomali rendah <-5 mgal yang menyebar ke timurlaut dan tenggara, anomali sedang dengan harga -5 s/d 0 mgal dan 0 s/d 5 mgal berada di timur dan anomali tinggi >5 mgal menempati bagian tengah dan utara (Gambar 7).

Geolistrik dan Head-On

Hasil penyelidikan geolistrik tahanan jenis, Hasil anomali tahanan jenis semu bentangan AB/2= 1000 m mempunyai pola hampir sama dengan pola tahanan jenis semu bentangan lebih pendek. Anomali sedang sedikit berada di lintasan B dan D, selanjutnya diikuti oleh anomali sedang-rendah cukup luas di bagian tengah dan timur dengan luas ± 10 Km2 pada setiap lintasan dengan arah penyebaran utara selatan. Anomali sedang-rendah seluas ± 10 Km2 ini diperkirakan sebagai daerah prospek panas bumi. Di bagian barat terdapat anomali rendah yang kemungkinannya merupakan repleksi dari air laut (Gambar 8).

Penampang tegak tahanan jenis sebenarnya, Dari data per titik sounding dibuat model penampang tahanan jenis 2-D. Penampang AB dibuat memotong setiap lintasan dengan arah baratdaya-timurlaut sehingga diperoleh penampang yang melalui 4 titik sounding di titik amat C3000, D4000, E4000, F4000. Hasil penampang AB menunjukkan terdapat 4 grup lapisan, yaitu: Lapisan I/lapisan permukaan, dengan nilai tahanan jenis antara 22-120 Wm, berketebalan 36-45 m dan terdapat di kedalaman 52-60 m, batuannya adalah lava dan breksi.

Lapisan II, dengan tahanan jenis 8-17 Wm, ber ketebalan 42-170 m dan berada pada kedalaman 160-250 m, batuannya diduga breksi/lava yang sudah lapuk.

Lapisan III, dengan nilai tahanan jenis 2-3 Wm, berketebalan 220-553 m, ada di kedalaman 425-715 m, diduga batuannya adalah batuan alterasi.

Lapisan paling bawah mempunyai nilai tahanan jenis 11-15 Wm dan berada di kedalaman lebih dari 715 m, batuannya adalah lava/breksi lapuk (Gambar 9).

Kurva dan interpretasi struktur head-on Lintasan-X, kurva tahanan jenis semu dibuat berdasarkan ploting perpotongan antara kurva hasil pengukuran dengan sumbu di kedalaman sama dengan AB/4. Pada penampang lintasan X, tampak 3 buah sesar. Sesar I terdapat pada titik amat X-600 di kedalaman yang berhubungan dengan bentangan AB/2= 200 m hingga AB/2= 400 m, dengan kemiringan hampir tegak. Sesar II ada pada titik amat X-1000, muncul pada semua bentangan mulai permukaan pada bentangan AB/2=200 m sampai bentangan yang paling besar/AB/2= 800 m, kemiringan struktur ke arah timur dan makin kedalam kemiringan makin tegak. Struktur III berada pada titik amat X-1850 dengan ke miringan hampir tegak ke arah barat sampai bentangan AB/2=400 m, kemudian menerus miring ke arah barat dengan sudut kemiringan lebih besar sampai pada titik amat X-1500. Dari struktur II dan III yang menerus sampai kedalaman, maka diperkirakan zona itu adalah zona depresi di sepanjang S. Hu’u dan merupakan akses manifestasi panas bumi kepermukaan.

DISKUSI

Di daerah Hu’u, NTB akumulasi panas di bawah permukaan terindikasikan oleh adanya batuan ubahan argilit dan pemunculan beberapa mata air panas. Indikasi tadi menunjukkan bahwa fluida di bawah permukaan bersifat normal-asam, sehingga sistim lempung penudung/ clay cap hadir di sini. Lempung penudung letaknya berada di atas daerah reservoar, khususnya di sekitar manifestasi Pure, Limea dan Ncangga. Sedangkan Fluida panas di zona reservoar Hu’u diduga bersistim 2 (dua) fase, yaitu fase uap dan fase air panas dengan pH netral-asam.

Peta mapping geolistrik menunjukkan adanya anomali sedang-rendah di daerah tengah dan timur seluas ± 10 Km2. Sedangkan hasil sounding menunjukkan adanya daerah bernilai tahanan jenis 11-15 Wm pada kedalaman lebih dari 715 m, sehingga diduga terdapat reservoar pada kedalaman > 900 m (?).

Dari analisis geomagnet dan gaya berat terindikasi adanya struktur berupa sisa tubuh panas/pocket magma (?) di bawah permukaan dan diprediksikan sebagai sumber panas yang memanasi air tanah dalam di reservoar dan mendorong fluida panas keatas melalui zona sesar/rekahan yang menyebabkan terbentuknya batuan ubahan.

Model tentatif panas bumi daerah Hu’u, NTB menunjukkan, bahwa (Gambar 10):

Sumber panas/heat source diduga berupa bodi (tubuh) magma di bawah vulkanik Wawosigi dan Puma.

Zone reservoar berada di daerah akumulasi air tanah dalam dan berbentuk sistem air panas yang terperangkap di rekahan/ retakan batuan. Zona ini diperkirakan ada di kedalaman -900 hingga -1600 m di bawah manifestasi. Air tanah yang terpanasi di kedalaman itu selanjutnya akan naik kepermukaan melalui akses dalam zona patahan atau rekahan batuan dan muncul sebagai mata air panas.

Batuan penudung merupakan batuan lava hasil erupsi G. Wawosigi dan G. Puma berupa clay cap pada kontak sentuh dengan lapisan air panas di sekitar manifestasi air panas dan batuan alterasi. Di daerah manifestasi ketebalan lempung penutup ini lebih tebal bila dibandingkan dengan daerah yang semakin menjauh dari manifestasi permukaan.

Batuan konduktif adalah batuan-batuan Tersier Tua/ Miosen Bawah yang mengalami silisifikasi, dimana rambatan panas terkonduksi melalui batuan ini, sedangkan konveksi panas teralirkan melalui fluida di sepanjang zona permeabilitas/fraktur dan patahan.

Daerah prospek panas bumi terdapat pada zona depresi S. Hu’u yang menempati bagian tengah dan di timur. Kontur anomali nilai tahanan jenis sedang-rendah 15-5 Wm ini membuka ke arah timur dengan luas ± 10 Km2 dan mempunyai kedalaman > 900 m. Perkiraan/estimasi potensi cadangan terduga berdasar formula Standarisasi Potensi Panas Bumi Indonesia (DGSM, 1999), adalah:

Q = 0,11585 x A x ( TRes – T cut off) o C

di mana:

Q: Potensi energi panas bumi terduga (Mwe).

0,1158: nilai konstanta

A: Luas daerah potensi (km2).

berdasarkan peta tahanan jenis semu AB/2=1000 m.

TRes: Suhu bawah permukaan (o C).

yaitu 180o C berdasarkan perhitungan geotermometer air panas SiO2 conductive cooling” .

Tcut off : Suhu cut off dalam oC, yaitu 120o C untuk reservoar berentalpi sedang (intermediate entalphy).

Asumsi ketebalan reservoar ± 1 Km.

Sehingga potensi cadangan terduga di daerah Hu’u adalah:

Q = 0.11585 x 10 x (180-120) Mwe

= 69 Mwe (60-70 Mwe).

KESIMPULAN

Di daerah Hu’u akumulasi fluida panas di kedalaman terindikasikan oleh adanya batuan ubahan dan mata air panas Lacoha, Sori rewa, Lapui, Hu’u, Lekai dan Ncangga yang bertemperatur antara 32.0 - 46.1°C dengan pH netral (6.5-7,3) dan mata air panas Limea bertemperatur 80oC dengan pH asam (2.1- 2.7).

Indikasi itu menunjukkan bahwa sifat fluida di bawah relatif netral-asam dengan entalphy sedang. Diperkirakan terdapat lempung penudung (clay cap) yang letaknya di atas reservoar di bawah manifestasi Pure, Limea dan Cangga. Sedangkan fluida panas yang terdapat dalam zona reservoar di daerah Hu’u diduga bersistim 2 fase, yaitu fase uap dan fase air pana. Namun fluida berfase air panas di sini jumlahnya relatif dominan apabila dibandingkan dengan fluida berfase uap.

REKOMENDASI

Adanya potensi energi panas bumi di daerah Hu’u, Nusa Tenggara Barat dengan cadangan terduga sebesar 60-70 Mwe dan mata air panas Cangga 2 yang bertipe sulfat yang mencerminkan sistim panas bumi up - flow perlu ditindak lanjuti dengan pemboran landaian suhu sedalam 250 m atau bor eksplortasi sedalam 1000-1500 m untuk membuktikan adanya potensi uap dan panas di kedalaman tersebut.

Namun disarankan potensi di zona up flow Cangga sebelum dilakukan pemboran landaian suhu atau pemboran eksplorasi perlu dilakukan survei megneto teluric (MT) untuk mengetahui daerah anomali dan patahan-patahan di penetrasi yang lebih dalam. Selain itu perlu dilakukan sosialisasi pada masyarakat setempat dan perlu diinventarisasi wilayah tata guna lahan di daerah vulkanik Wawosigi dan Puma sehingga tidak terjadi hal yang beresiko di dalam pelaksanaan pemboran.

PUSTAKA

Bemmelen, van R.W., 1949; The Geology of Indonesia. Vol. I A.732 p. Government Printing Office. The Hague. Netherlands.

Breiner.S. 1973, Application Manual for Portable Magnetometers.

Fournier, R.O., 1981. Application of Water Geochemistry Geothermal Exploration and Reservoir Engineering,“Geothermal System: Principles and Case Histories”. John Willey & Sons. New York.

Giggenbach, W.F., 1988. Geothermal Solute Equilibria Deviation of Na-K-Mg – Ca Geo- Indicators. Geochemica Acta 52. pp. 2749 – 2765.

Mahon K., Ellis, A.J., 1977. Chemistry and Geothermal System. Academic Press Inc. Orlando.

Telford and Sheriff, 1990, Applied Geophysics, Cambridge University.

Gambar 1. Lokasi penyelidikan

Gambar 2. Peta geologi daerah Hu’u, Kabupaten Dompu, NTB

Gambar 3. Pengelompokan tipe air panas dan Kandungan relative Na, K dan Mg

Gambar 4. Diagram Cl, Li dan B

Gambar 5. Grafik isotop 18O vs Deuterium

Gambar 6. Peta Kontur Sebaran Hg Tanah

Gambar 7. Peta Kontur Sebaran CO2 Udara Tanah, Peta Anomali Sisa Gaya Berat dan Struktur Patahan, Peta Anomali Tahanan Jenis Semu A/B = 1000 m, Penampang Tahanan Jenis Sebenarnya C-3000, D-4000,E-4000 dan F-4000

Gambar 8. Model 3-D Tentatif Panas Bumi Daerah Huu, Kab. Dompu - NTB

Wednesday, April 12, 2006

PENGEMBANGAN PANASBUMI INDONESIA

Jumat, 02 April 2004 - 14:11 WIB
SIARAN PERS NOMOR : 07/02/04/2004
PENGEMBANGAN PANASBUMI INDONESIA
Indonesia memiliki sumber daya panasbumi terbesar di dunia. Hingga saat ini telah diketahui 251 lokasi panasbumi dengan total potensi sebesar 27.000 MW. Energi panasbumi memiliki keunggulan yaitu bersih dan sustainable. Akan tetapi, tidak seperti kebanyakan sumber energi lainnya, sumber energi panasbumi tidak dapat ditransportasikan, sehingga harus dikembangkan ditempat dekat sumber panasbumi, yang pada umumnya berada di daearah perbukitan dan terpencil. Pertumbuhan pemanfaatan energi panasbumi belum menggembirakan, antara lain disebabkan kalah bersaing terutama dengan bahan bakar minyak karena adanya subsidi BBM. Disamping itu adanya risiko di sisi hulu pada saat eksplorasi yang harus dipikul pengembang.
Perhatian Pemerintah untuk mengembangkan panasbumi begitu besar terutama sejak 1974 dengan dikeluarkannya berbagai kebijakan. Pemerintah menugaskan Pertamina dengan memberikan kuasa pengusahaan, baik dengan dilakukan sendiri atau kerjasama dengan pihak lain melalui Kontrak Operasi Bersama untuk mengembangkan panasbumi dan menjualnya kepada PLN. Kontrak Penjualan Energi yang pernah dilakukan melalui penugasan ini berjumlah sebesar 3600 MW. Namun hingga saat ini baru 807 MW listrik yang sudah dapat dihasilkan. Sejak tahun 2000 monopoli Pertamina dalam pengembangan panasbumi dicabut.

Undang-undang No. 27 tahun 2004 tentang Panasbumi memberikan kepastian hukum pengembangan panasbumi di Indonesia yang lebih transparan dalam pengusahaannya. Pemerintah diberi tugas untuk menanggung risiko di sisi hulu sebelum ditawarkan kepada pengembang melalui lelang. Setidaknya upaya ini dapat memberikan kepastian cadangan uap panasbumi yang dapat dikembangkan. Tugas pengawasan dan pembinaan dilakukan oleh Pemerintah, yang dahulunya dijalankan oleh Pertamina. Undang-undang ini juga memberikan penegasan bahwa kontrak-kontrak dan wilayah kerja yang pernah dikeluarkan tetap dihormati sampai habis masa berlakunya. Demikian pula bagi hasil Pusat-Daerah (20:80) dari hasil produksi uap panasbumi ditetapkan dalam undang-undang. Dua peraturan pemerintah tengah disusun sebagai turunan dari undang-undang ini yaitu tentang pengusahaan dan tentang pemanfaatan langsung panasbumi.

Kedepan, sesuai dengan Kebijakan Energi dan didukung oleh UU No. 20/2002 tentang Ketenagalistrikan yang memberikan prioritas pada energi terbarukan untuk pembangkitan tenaga listrik, diharapkan pada 2020 diperkirakan sebesar 6000 MW listrik dapat dihasilkan dari panasbumi. Strategi yang ditempuh untuk meraih target ini yaitu mengoptimalkan penggunaan panasbumi pada wilayah kerja panasbumi yang pernah dikeluarkan. Setidaknya terdapat potensi sebesar 5500 MW yang ada di seluruh wilayah kerja tersebut. Diantaranya sebesar 3600 MW yang telah terikat kontrak operasi bersama dan kontrak penjualan energi perlu mendapat prioritas utama untuk diselesaikan. Pengembangan panasbumi dapat juga dilakukan dari wilayah kerja baru terutama pada lokasi-lokasi yang pernah disurvai oleh Pertamina dan Pemerintah. Setidaknya ada 13 lokasi panasbumi yang pernah diselidiki dan ini berpotensi untuk dipromosikan untuk dikembangkan. Demikian pula pengembangan lapangan panasbumi untuk listrik sekala kecil/pedesaan akan terus dilakukan Pemerintah terutama untuk daerah-daerah yang tidak memiliki sumber energi selain panasbumi.

Dalam rangka optimalisasi sumber daya panasbumi, pemanfaatan panasbumi untuk penggunaan langsung dapat dikembangkan bersamaan dengan pengembangan panasbumi untuk listrik atau terpisah terutama pada lapangan-lapangan panasbumi bersuhu rendah.

Dalam jangka panjang perhatian harus dilakukan untuk memperdalam data dan informasi panasbumi dan juga mengidentifikasi lokasi-lokasi baru sumber panasbumi baik untuk kepentingan penggunaan listrik maupun manfaat langsung. Atas dasar ini akan semakin banyak daerah-daerah yang dapat dipromosikan untuk dikembangkan. Demikian pula kelembagaan panasbumi baik yang berhubungan dengan pengaturan, pengawasan, survai dan penelitian baik di Pusat maupun Daerah perlu dievaluasi mengingat target dan ruang lingkup tugas yang cukup besar dalam pengembangan panas bumi.

Sunday, April 09, 2006

Krisis Energi Bikin Investor Ketar-ketir - Sabtu, 25 Maret 2006

Krisis Energi Bikin Investor Ketar-ketir - Sabtu, 25 Maret 2006

Melirik Teknologi Termoelektrik sebagai Sumber Energi Alternatif - Sabtu, 07 Agustus 2004

Melirik Teknologi Termoelektrik sebagai Sumber Energi Alternatif - Sabtu, 07 Agustus 2004

Thermoelektrik ini tentunya bisa diapaki di panas bumi maupun energi panas lainnya.
Great !

MELIRIK ENERGI PANASBUMI

MELIRIK ENERGI PANASBUMI
Oleh Bosman Batubara*
Boleh dikata kebijakan diversifikasi energi di Indonesia jomplang. Dikatakan jomplang karena pasar energi di Indonesia masih terkonsentrasi pada Bahan Bakar Minyak (BBM). Hal ini semakin ironis mengingat pelbagai macam “bom waktu” yang tersimpan seiring dengan pemakaian BBM. Sebut saja misalnya, beban negara yang harus terus menyubsidi rakyat, cadangan minyak bumi yang semakin menipis ditingkahi kebutuhan energi yang semakin tinggi, dan tabungan kerusakan ekologis berupa—salah satunya—pemanasan global sebagai akibat terbentuknya selubung pelbagai macam gas di atmosfer bumi kita.
Mengacu pada publikasi Departemen ESDM, Indonesia memiliki cadangan energi fosil berupa 86,9 miliar barrel minyak yang dapat digunakan selama 18 tahun, cadangan gas alam sebesar 384,7 triliun standar kaki kubik, untuk penggunaan selama 61 tahun, dan cadangan batubara sebesar 57 miliar ton, untuk penggunaan selama 147 tahun. Adapun energi non-fosil seperti air dan panasbumi, mencapai setara dengan 219 juta barrel minyak, dan istimewanya cadangan non-fosil ini dapat diperbaharui (renewable), (Kompas, 28/5/05). Sementara kebutuhan manusia akan energi semakin hari semakin meningkat. Ambil contoh, kebutuhan minyak mentah dunia akan naik sebesar kurang lebih 1,7%, dari 82, 4 juta barrel pada tahun 2004, menjadi 83,8 juta barrel pada tahun 2005 (Kompas, 9/5/05).
Untuk permasalahan ekologi, anda jangan heran apabila cuaca di kota anda semakin lama semakin panas. Mudah dipahami. Salah satu penyebab naiknya suhu di permukaan bumi adalah adanya fenomena “efek rumah kaca”. Efek rumah kaca diartikan sebagai kenaikan suhu di bumi karena adanya kandungan berbagai macam gas yang membentuk selubung di atmosfer bumi kita. Kejadiannya kira-kira sebagai berikut. Panas matahari yang sampai di bumi kita, tidak semuanya terserap oleh bumi, tetapi ada bagian-bagian yang dipantulkan kembali ke atmosfer. Begitu sampai di bagian gas yang membentuk selubung tadi, panas matahari hasil pantulan ini tidak bisa menembus selubung gas, tetapi kembali terpantulkan ke arah bumi. Akibatnya suhu di bumi naik. Banyak akibat susulan yang akan timbul karena naiknya suhu di permukaan bumi kita, salah satunya—dan yang paling sering disebut-sebut orang—adalah mencairnya tubuh-tubuh es yang ada di bumi, sehingga ada kemungkinan seluruh daratan di bumi akan tergenang.
Salah satu jenis gas yang membentuk selubung di atmosfer tersebut adalah gas CO2 (karbon diokasida). CO2, dalam kondisi seimbang, merupakan gas yang dibutuhkan oleh tumbuhan untuk proses pernafasan. Akan tetapi melihat lekasnya laju deforestasi di muka bumi dan pemakaian bahan bakar fosil—salah satu bakal penghasil gas CO2—maka lama-kelamaan keadaan semakin tidak setimbang. Produksi gas CO2 terlalu banyak, sementara pengonsumsinya terus berkurang.
Salah satu penghasil gas CO2 adalah kenderaan bermotor dan mesin-mesin lain yang menggunakan bahan bakar fosil. Sewaktu keluar dari mesin sebagai gas buangan, gas ini masih dalam bentuk CO (karbon monoksida). Karbon monoksida sendiri sangat berbahaya. Dalam darah CO memiliki kemampuan mengikat haemoglobin (butir-butir darah merah), sehingga dapat menghentikan proses pernafasan. Di udara bebas, CO akan bereaksi dengan O2 dan membentuk gas CO2 yang kemudian menyumbang terbentuknya selubung gas “rumah kaca”. Sebagai contoh, di kota Yogyakarta kandungan gas CO yang dihasilkan dari kenderaan bermotor roda 2 dan roda 4 pada tahun 2003 mencapai 0,19-14,95 % (KOMPAS, 30/4/05). Dan kesemuanya itu tentunya menyumbang untuk pemanasan global (global warming) tadi.
Dengan kondisi macam begitu, tidak aneh kalau pasca Kongres Panasbumi Dunia (World Geothermal Congress) 2005 di Antalya, Turki, maka delegasi Asosiasi Panasbumi Indonesia (API) langsung menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan “mengampanyekan” energi panasbumi sebagai salah satu sumber energi di luar BBM yang “dapat diharapkan”.
Banyak faktor penyebab mengapa panasbumi yang, didefinisikan sebagai energi panas dari dalam bumi yang dapat diambil dalam bentuk uap, air panas, atau campuran keduanya (Pri Utami, 2003), dapat diandalkan sebagai sumber energi yang “dapat diharapkan”, terutama untuk kasus Indonesia.
Pertama, tentunya keterdapatan energi panasbumi di Indoneisa yang melimpah. Potensi panas bumi di Indonesia dalam pelbagai macam status sangat melimpah,. Terdiri dari 9530 Megawatt (MW) berstatus Sumberdaya Spekulatif, 4714 Sumberdaya Hipotesis, 9912 MW Cadangan Terduga, 728 MW Cadangan Mungkin dan 2305 Cadangan Terbukti, total jenderal 27.189 MW. Kesemua sumberdaya dan cadangan panasbumi tersebut tedistribusi di 251 lokasi mulai dari provinsi paling barat, NAD, sampai di provinsi paling timur, Papua. Dengan jumlah potensi energi panasbumi sebesar itu, maka Indonesia menjadi negara pemilik cadangan energi panasbumi terbesar di dunia (kurang lebih 40% cadangan dunia). Namun, dari sekian potensi tersebut, yang sudah dimanfaatkan (terpasang) baru 807 MW, (Sjafra Dwipa, 2003).
Kedua, tentunya sifat energi panasbumi yang dapat diperbaharui (renewable). Dengan teknik injeksi, maka uap air yang sudah diambil panasnya untuk memutar turbin dapat dipompakan kembali ke dalam volume batuan di bawah permukaan yang mampu menyimpan dan melalukan fluida serta memiliki temperatur dan tekanan yang sesuai untuk sistem panasbumi (reservoir). Renewabilitas panasbumi inilah yang menjadi salah satu faktor penting yang membedakannya dengan sumber energi lain seperti BBM dan Batubara.
Ketiga, energi panasbumi sebagai energi yang ramah lingkungan. Hal ini ditinjau dari kandungan emisi gas buang energi panasbumi jikalau dibandingkan dengan bahan bakar minyak dan batubara. Emisi gas CO2 panasbumi sekira 4 kali lebih kecil dari emisi gas CO2 minyak dan batubara, (Pri Utami, 2003).
Keempat, perkembangan rekayasa pemanfaatan terpadu energi panasbumi memperlihatkan gejala domestik. Ini berarti energi panasbumi bukan komoditas ekspor seperti BBM. Dengan demikian energi panasbumi akan menjadi sumber energi lokal dan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan energi setempat, sekaligus, efek dominonya diharapkan akan merangsang pertumbuhan daerah terkait.
Begitupun, terlepas dari segala macam keutamaan energi panasbumi seperti yang sudah dipaparkan di atas, ternyata sumber energi ini tidak luput pula menuai kritikan. Meski bernada sangsi, maka tulisan George Junus Aditjondro (GJA) dapat dianggap sebagai salah satunya. GJA mengaitkan keberadaan lapangan panasbumi Lahendong yang diharapkan berkekuatan 60 MW dengan fenomena bocornya seng atap rumah-rumah penduduk di sekitarnya, sehingga harus diganti dengan atap rumbia (GJA, 2003). Padahal, perlu diketahui bahwa gejala pengaratan atap berbahan seng pada daerah sekitar gunungapi yang menghasilkan belerang—lapangan panasbumi umumnya berasosiasi dengan gunungapi—sudah menjadi sesuatu yang lazim. Di sekitar gunung Sorik Marapi (Mandailing Natal, Sumatera Utara) misalnya, sejak zaman dahulu masyarakat disana membangun rumahnya dengan beratapkan ijuk, karena bila memakai seng sangat cepat mengalami pengaratan.
Demikianlah. Sebagai penutup, tiada cara lain, kecuali mengunci tulisan ini dengan harapan; semoga kebijakan energi pemerintah semakin terdiversifikasi. Karena kalau tidak, boleh jadi kita sendiri: manusia, akan terjebak dalam lubang-lubang masalah yang (juga) kita cipta sendiri, dan menyebabkan kepunahan semesta. Dan itu tragis.***


* adalah mahasiswa Jurusan Teknik Geologi FT-UGM


Dari si penulis :
On 4/9/06, bosman batubara wrote:
>
> Saya sudah joint kok Pak di milis "Geologi UGM." Mungkin ada yang
> meng-invite. Terima kasih Pak.
> Btw, saya juga pernah menulis tentang geothermal dulu sewaktu masih menjadi
> mahasiswa (itu dulu atas motivasi dari Pak Sukusen. Saya ga' tau apakah
> beliau masih ingat atau sudah lupa). Dulu pernah dimuat di salah satu koran
> lokal di Medan (persisinya saya sudah lupa). Tetapi sangat dangkal Pak.
> (tetapi yang ini jangan Bapak forward ke milis UGM, wah... saya malu nanti).
> sekali lagi terima kasih.
>
> bb